Showing posts with label renungan. Show all posts
Showing posts with label renungan. Show all posts

Friday, May 11, 2012

Eksklusif vs Inklusif : Kerapuhan, Arogansi, dan Individualisme

Halo temen-temen pembaca sekalian.
Setelah sekian lama nggak posting, akhirnya hari ini aku punya waktu buat posting lagi!
Yuk langsung aja kita masuk ke perenungan...

Topik renungan kali ini diangkat dari kitab Yunus. Adakah di antara para pembaca sekalian yang belum pernah mendengar kisah tentang nabi Yunus? Itu lho, yang pernah berkemah di dalam perut paus... (?)

Yah back to topic, Yunus itu seorang Israel. Disuruh Tuhan untuk memberitakan PERINGATAN kepada bangsa Asyur, yang dulunya pernah menghancurkan bangsa Israel. Terang aja Yunus nggak mau.

Eh tapi kenapa Yunus nggak mau ya? Karena takut? Ternyata bukan cuma itu lho teman-teman...

Usut punya usut ternyata sikap Yunus itu nggak beda jauh dengan sikap eksklusif manusia pada jaman sekarang. Lha kok bisa?

Begini teman-teman, agaknya Yunus menyimpan dendam pada bangsa Asyur. Buktinya? Coba buka kitab Yunus pasal 3 : 4, di sana tertulis bahwa Yunus berteriak mengancam orang-orang Niniwe. Demikian bunyinya: "Empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggangbalikkan."

Lalu? Apanya yang salah? Bukannya itu memang perintah Tuhan?

Weits... coba kita flash back sebentar, bukalah kitab Yunus pasal 1 : 2. Di situ tertulis bahwa Tuhan berfirman, "Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, berserulah terhadap mereka, karena kejahatannya telah sampai kepada-Ku."

Kayanya nggak ada yang salah deh? Yunus kan menjalankan tugasnya sesuai perintah Tuhan.

Eh tunggu dulu... coba bandingkan nada yang terkandung dalam firman Tuhan dan kata-kata Yunus. Firman Tuhan itu hanya sekedar memperingatkan lho teman-teman. Sedangkan kata-kata Yunus? Hukuman! Ya, yang diberitakan Yunus adalah berita bahwa Niniwe akan dihukum oleh Tuhan! Padahal, kalau kita perhatikan, Tuhan tidak pernah berkata akan menghukum Niniwe lo..

Lalu apa yang terjadi? Ternyata Tuhan mengampuni orang-orang Niniwe. Bagaimana reaksi Yunus? Mutung! Iya teman-teman, Yunus mutung karena Tuhan memilih untuk mengampuni orang-orang Niniwe yang adalah bangsa Asyur, yang notabene musuh bangsa Israel.

Coba kita telaah pelan-pelan. Yunus adalah seorang Israel, umat pilihan Allah. Ia diperintah untuk memperingatkan orang-orang Niniwe yang adalah musuh orang Israel, tetapi alih-alih memperingatkan, Yunus malah memberitakan bahwa Tuhan akan menghukum Niniwe.

Atas dasar apa? Kenapa Yunus dengan "kreatifnya" mengubah isi firman Tuhan? Karena ia merasa dirinya eksklusif. Karena ia merasa dirinya lebih disayang oleh Tuhan. Karena ia merasa bahwa Tuhan hanya menyayangi bangsa Israel yang merupakan umat pilihan. Yunus mungkin merasa, bahwa kasih Tuhan adalah hak eksklusif yang hanya dapat dimiliki oleh bangsa Israel.

Alhasil ketika Tuhan mengampuni bangsa Israel, Yunus mutung karena ia merasa Tuhan menduakan bangsa Israel, bahwa Tuhan ternyata lebih menyayangi orang-orang Niniwe. Padahal, apakah benar Tuhan itu seperti yang dipikirkan Yunus? Bukankah kasih Tuhan adalah hak segala umat manusia?

Teman-teman, hari ini kita mau belajar dari sikap eksklusif Yunus. Apakah kita masih sering merasa bahwa Tuhan itu milik kita seorang?

Mungkin ketika kita bersama teman-teman yang sepaham dengan kita, kita bisa "berbagi" Tuhan dengan mereka. Tapi, bisakah kita berbuat demikian? Ketika bukan berhadapan dengan teman, namun dengan orang yang kita anggap musuh? Yang padanya kita menyimpan dendam dan iri hati? Masihkah kita sering berpikir, biar Tuhan saja yang menghukumnya? APA YANG HARUS TUHAN HUKUM?!

Terkadang teman-teman, kita lupa bahwa Tuhan mengasihi semua makhluk hidup. Bahwa Tuhan bukan hanya milik kita. Bahwa Tuhan adalah KASIH, dan bahwa di dalam KASIH tidak ada lagi penghukuman, melainkan pengampunan.

Teman-teman, sikap eksklusif seringkali membuat kelompok tertentu terlihat kuat dan menonjol. Tapi kita perlu melihat juga, bahwa seekor KEONG mempunyai cangkang yang keras karena tubuh bagian dalamnya lemah. Bahwa seseorang yang hidup dengan membangun tembok-tembok pemisah di sekelilingnya, sebenarnya adalah seorang yang lemah, namun berpura-pura kuat.

Sikap eksklusif mungkin membuat seseorang tampak "wah" di luar, tapi di balik itu justru tersimpan kerapuhan. Lebih parahnya bila untuk menutupi kerapuhan itu, kita mulai bersikap individualis dan arogan. Yang penting adalah aku dan aku tidak pernah salah.

Buatlah pilihanmu teman-teman.
Seekor keong akan mati kelaparan bila ia memutuskan untuk diam saja dan tidak memberanikan diri untuk mengeluarkan bagian tubuhnya yang lemah dari dalam cangkangnya.
Seekor ulat tidak akan pernah menjadi seekor kupu-kupu yang indah bila ia tetap berlindung di balik kepompongnya.
Seekor anak burung tidak akan pernah terlahir bila ia tidak mau berusaha keluar dari dalam cangkang telurnya.
Karena keindahan dunia hanya dapat terlihat ketika kita berani untuk keluar dari "cangkang-cangkang" pribadi kita :)

Monday, March 26, 2012

0.2% buruk ataukah 99.8% baik?

Suatu ketika ada seorang tukang bangunan yang mendirikan sebuah tembok. Sebulan kemudian, berdirilah sebuah tembok setinggi 4 meter di hadapannya. Dia sedang mengagumi hasil karyanya ketika tiba-tiba matanya tertuju pada dua buah bata yang telah keliru disusun, jelek sekali pikirnya. Padahal, semennya sudah keras. Sang tukang pun jadi kesal.
Sejak saat itu, dia sangat benci melihat tembok tersebut. Dua buah batu bata yang miring tersebut telah mempengaruhi keseluruhan tembok. Sampai suatu hari, ada yg melewati tembok tersebut dan berkomentar, "Betapa indahnya tembok ini." Sang tukang kontan saja terkejut, "Pak, apakah penglihatan anda terganggu? Tidakkah anda melihat 2 batu bata jelek di tembok itu ?"
Orang itu berkata , "Ya, saya melihat dua buah batu bata yang jelek itu, namun saya juga melihat 998 batu bata yang disusun dengan baik".
Dalam kehidupan ini, kita sering memutuskan suatu masalah hanya dengan memvonis kesalahan, tanpa mengabaikan kebaikan-kebaikan yg pernah ada. Mata hanya terfokus pada kekeliruan, teman yang telah berhubungan baik selama puluhan tahun jadi musuh hanya perdebatan sehari. Kekasih yang sudah tahunan mendampingi, harus berpisah hanya karena bertengkar sehari.
Kita hanya melihat yg jelek. Kenyataannya, jauh lebih banyak yang bagus.
Maafkanlah, meski kadang tidak sepaham.
Memberi damai berarti juga menimbulkan damai bagi diri sendiri.

Friday, March 16, 2012

Talenta: Hutang yang Harus Dibayarkan?

Talenta = Hutang?
Yang bener aja?!

Weiiittsss... sabar dulu... Coba buka dulu alkitab kita di Injil Matius 25 : 14 - 30
Di sana tertulis perumpamaan tentang talenta. Dan tertulis pula di ayat 14 dan 15 dengan jelas bahwa talenta kita hanyalah hasil pemberian Tuhan semata, dan jelas bukan milik kita.

Lalu apa hubungannya dengan hutang?
Nah mari kita lanjutkan lagi pembacaan alkitab kita. Tertulis pada ayat 19 bahwa sang Tuan kemudian mengadakan perhitungan dengan hamba-hambaNya. Dari sini dapat kita simpulkan, bahwa sebagaimana layaknya kita dipinjami sesuatu, kita harus pula mengembalikannya. Mirip dengan ketika kita berhutang, kita harus mengembalikannya dan bahkan terkadang, beserta dengan bunganya.

Kemudian, kalau kita lanjutkan pembacaan kita sampai ke ayat 24, ada hal yang menarik pada ayat tersebut.
Pada ayat tersebut hamba ke-3 menuduh bahwa sang Tuan adalah Tuan yang kejam, yang merampas kekayaan orang lain! Namun, benarkah begitu?

Merujuk ke ayat 26, ternyata si hambalah yang malas! Ia sudah tahu bahwa selayaknyalah jika ia mengelola kekayaan Tuannya yang dipercayakan kepadanya. Namun ia lebih memilih untuk menimbun kekayaan tuannya itu dan tidak mengembangkannya sama sekali.

Kembali ke pokok bahasan kita, sebenarnya, talenta / bakat kita bisa diibaratkan dengan kekayaan yang dipercayakan sang Tuan kepada hamba-hambanya untuk dikelola. Tuhan sama seperti sang Tuan dalam perumpamaan tersebut, tidak semata-mata melihat hasil yang diperoleh saja. Namun Tuhan lebih melihat ke dalam proses dan usaha kita untuk mengelola talenta kita.

Nah sekarang bagaimana tanggapan kita?
Akankah kita bersikap seperti si hamba yang malas? Yang tidak mau mengelola talenta yang sudah diberikan Tuannya?
Ataukah kita akan seperti hamba pertama? Yang dengan talenta yang besar, memperoleh hasil yang besar juga?
Lho? Hamba ke-2 ke mana?

Khusus hamba kedua, ada hal yang menarik darinya.
Ia sadar dan tahu bahwa ia tidak diberi talenta sebesar hamba pertama. Namun yang menarik adalah, ia tidak mempermasalahkan besar / kecilnya talenta yang diberikan tetapi tetap mau mengembangkan dan mengelolanya. Ia sadar bahwa ia tidak diberikan talenta yang terbaik, tapi ia tetap mau memberikan usaha yang terbaik.

Untuk menutup renungan ini saya ingin membagikan serangkaian kata-kata yang menurut saya menarik untuk direnungkan lebih lanjut.

Menjadi yang terbaik itu memang baik
Namun ingatlah:
Di atas langit pasti masih ada langitJanganlah menghalalkan segala cara untuk mencapai yang terbaik
Melainkan lakukanlah saja yang terbaik yang bisa kamu lakukan saat ini
Dan biarkan Tuhan yang memberikan yang terbaik pada saatnya nanti
:)

Saturday, March 10, 2012

Kelemahan: Duri Dalam Daging yang Menguatkan

Ketika mendengar kata kelemahan, apa sih yang terlintas di pikiran kita? Sesuatu yang negatif? Ya, mungkin itulah persepsi "default" kita tentang kelemahan.


Namun apakah selamanya begitu? Kelemahan = negatif?

Ketika mendengar nama Saulus, kesan apa yang anda dapatkan?
Kemudian ketika mendengar nama Paulus? Sosok seperti apakah yang anda bayangkan?

Contoh ini menggambarkan bahwa untuk orang yang sama saja, dengan nama yang berbeda, dapat membuat kesan yang berbeda pula. Sadarkah kita bahwa kita kadang tidak adil? Menghakimi sesuatu hanya dari satu sisi?

Sama halnya dengan cara kita memandang kelemahan. Adilkah ketika kita hanya melihat kelemahan sebagai sesuatu yang negatif? Dan yang lebih penting lagi, mampukah kita memandang kelemahan sebagai sesuatu yang positif?

Sekarang cobalah anda memikirkan kelemahan anda masing-masing. Catat dan renungkan, kita akan menggunkannya lagi nanti.

Marilah kita kembali ke kisah rasul Paulus, beliau memiliki sebuah nasehat yang sangat baik dalam hal memandang kelemahan kita. Mari kita buka alkitab kita pada 2 korintus 12 : 7 - 10

Rasul Paulus dalam tulisannya menyatakan bahwa justru karena ada kelemahanlah, beliau dapat mensyukuri berkat Tuhan dan membuat kelemahannya menjadi kekuatan di dalam Tuhan. Karena kelemahan ada untuk membuat manusia sadar bahwa kita memerlukan Tuhan dalam kehidupan kita.

Nah sekarang kita kembali ke catatan kecil kelemahan kita. Cobalah untuk menemukan kelebihan yang anda miliki dari kelemahan-kelemahan tersebut. Misalnya saya adalah orang yang tidak mudah akrab dengan orang yang baru saya kenal, namun kelebihan saya adalah dapat memahami orang dengan lebih mudah.

Kegiatan ini dimaksudkan untuk membantu kita memahami kelemahan dengan paradigma yang lain. Jangan lagi kita memandang kelemahan sebagai sesuatu yang harus dihindari, tetapi lebih sebagai pengingat bahwa kita juga memiliki kelebihan yang sudah dikaruniakan Tuhan kepada kita. Dan supaya kita juga diingatkan bahwa Tuhanlah sumber kekuatan sejati bagi kita semua.

Syalom :)

Thursday, March 1, 2012

Kesadaran, Mengakui Kesalahan

Malam para pembaca sekalian. :)
Mari kita menyisihkan sedikit waktu untuk merenung. :)
Tema perenungan kali ini adalah "kesadaran."

Buka Alkitab yuk
2 Samuel 12 : 1 - 11
Cukup menarik masalah kesadaran yang dicontohkan dalam kisah Daud. Namun, sadarkah kita kalau mungkin kita seringkali bersikap sama seperti Daud? Disindir-sindir tapi tetep ga merasa salah. Ibarat gajah di depan mata tidak tampak, namun semut di ujung laut tampak.

Yang lalu biarlah berlalu. Kesalahan yang sudah terjadi tidak bisa dihapus. Yang lebih penting adalah bagaimana kita bersikap setelah berbuat kesalahan. :)

Mari kita sedikit melanjutkan bacaan kita ke ayat 13. Menarik kalau kita lihat, Daud segera memohon ampun kepada Tuhan. Bagaimana dengan kita?

Apakah kita mampu mengakui kesalahan kita? Ataukah justru kita malah ngeles? Cari-cari alasan? Atau yang lebih parah, apa kita malah melimpahkan kesalahan kita kepada orang lain?

Kecenderungan ini mungkin muncul dari sikap kita yang sentimen terhadap komentar yang negatif. Memang komentar negatif tidak mudah untuk diterima, namun yang perlu kita ambil adalah hal-hal yang bisa membangun diri kita. Kritik seringkali memang pedas, tapi sadarkah kita bila kritik juga dapat membangun diri kita?

Bayangkan bila kita selalu mendapatkan nilai 100 dari 100 saat ujian di sekolah, sekalipun jawaban kita tidak layak mendapatkan nilai 100 itu? Apakah kita akan berkembang? Saya pribadi meragukannya.

Yang perlu kita renungkan adalah : Tuhan dapat hadir dalam hal-hal yang tidak enak bagi kita sekalipun.
Ingatlah untuk menjaga integritas iman kita. Jangan menjual iman kita hanya karena dunia menentang kita.

Selamat malam. Tuhan memberkati. :)

Wednesday, February 1, 2012

Mediokritas = tulang keropos?

Selamat siang buat temen-temen pembaca sekalian. Siang ini mumpung laptop sudah kembali ke tangan, saya ingin berbagi pikiran dan hasil perenungan saya :)

Saya yakin kalau para pembaca sekalian pasti pernah berbuat baik kepada orang lain apapun bentuknya. Namun hal yang ingin saya bahas saat ini bukanlah bentuk dari perbuatan baik itu, namun mengapa kita melakukannya.

Kalau menurut ilmu fisika sih ada yang namanya hukum aksi-reaksi. Lalu di ilmu alkimia juga ada yang namanya hukum pertukaran setara. Bagi yang ingin lebih mendalami kedua hukum tersebut silahkan dicari sendiri, tapi pada intinya sih kedua hukum itu menyatakan hubungan timbal-balik, jika ingin sesuatu, harus melakukan atau mengorbankan sesuatu. Dan tanpa kita sadari seringkali kita menerapkan hal yang sama bagi orang-orang yang mengharapkan bantuan kita. Alias ngarep imbalan atau pamrih.

Emang sih klo kita terlalu baik nggak pernah minta apa-apa sebagai imbalan juga rasanya terlalu naif. Namun yang lebih penting lagi, sebenarnya kita itu ikhlas ga sih dalam membantu orang lain atau berbuat baik?

Ikhlas bukan berarti sama sekali tidak mengambil imbalan lho. Ikhlas itu menurutku sebenernya lebih mengarah kepada sikap kita memberi bantuan. Apakah kita sekedar berbuat tanpa kesungguhan hati ataukah kita memang melakukannya dengan dedikasi serta kesungguhan hati?

Nah di sini kita akan mulai membahas topik utama perenunganku. Kita itu berbuat baik sebenernya memang karena ingin dan tulus ataukah hanya karena kita diharuskan berbuat baik? Kita berbuat baik karena kepedulian kita ataukah karena ingin sekedar menghapus rasa bersalah dalam hati kita karena tidak pernah berbuat baik?

Tentu saja kemudian berbahaya bila kita memberi bantuan tanpa ketulusan dan kesungguhan hati, apalagi bila cuma ingin menghilangkan rasa bersalah. Ibaratnya bila kita seorang tukang bangunan, kita sedang membangun sebuah rumah tinggal untuk orang lain tapi tidak sepenuh hati, bagaimana jadinya?

Seperti yang sudah kubahas di atas, kita memang tidak perlu sampai nggak menerima imbalan apapun. Tapi paling tidak ketika kita akan melakukan sesuatu, apapun itu, lakukanlah dengan sepenuh hati. Karena pekerjaan yang dilakukan dengan setengah-setengah, dengan semangat mediokritas, akan menjadi seperti tulang yang keropos.

Friday, January 20, 2012

Bersukacita Dalam Pencobaan

Hmmmmm... kayanya kok susah ya? Lagi dapet cobaan kok disuruh bersukacita? Penasaran?
Yuk kita bahas dan renungkan bersama-sama :)

Siapa sih yang ga pernah mengalami pencobaan? Dari kecil aja kayanya pencobaan itu ada terus.... Mulai dari diusilin temen sampe nilai yang jelek. Dari dompet yang sudah kurus sampe perut keroncongan di akhir bulan. Kayanya wajar banget ya klo kita berkeluh kesah.. Malah udah wajar banget klo kita berduka dalam bentuk apa pun. Mulai dari menggalau sampe stroke (lho?)

Kalau sudah begitu, sadarkah kita bahwa kita sering kali malah menyalahkan Tuhan? "Tuhan, kenapa kau tega membiarkanku jomblo sekian puluh tahun?" "Tuhan, aku sudah belajar sampe 25 jam sehari tapi kok nilaiku merah semua begini?" Dan mungkin masih banyak lagi keluh kesah kita yang "menyalahkan" Tuhan. Kenapa kata menyalahkan saya beri tanda kutip? Karena mungkin kita tidak secara sadar dalam menyalahkan Tuhan.

Contohnya dalam dua kalimat di keluhan di atas, kayanya sih nggak menyalahkan Tuhan.. Tapi sadarkah kita klo secara implisit kita menganggap / menjudge bahwa Tuhan itu tidak adil? Untuk sedikit mengompori dan memperjelas mari kita sedikit berkhayal dengan sebuah masalah yang terbilang klasik. Anggap saja kita ini orang yang baik-baik, rajin bergereja, persepuluhan lancar, belajar tiap hari 24 jam aja masih mau nambah sejam lagi klo bisa. Tapi nasib kita? Udah ngejomblo puluhan tahun, duit ya pas... pas tengah bulan udah habis.. nilai ga usah ditanya lah... lebih merah daripada hidungnya Rudolph... Sementara orang yang kita tau jahatnya bukan main... setan aja kayanya harus pensiun klo dia besok udah mati... eh kok malah sukses dan hidupnya enak2 aja? Adil ga sih?

"Nggak adil pake banget!!!" Mungkin itulah yang terlintas dalam pikiran kita. Tapi apakah kita pernah berpikir? Bahwa Tuhan memakai orang2 seperti itu untuk mengingatkan kita? Agar bila pada saatnya nanti Tuhan melimpahkan berkatnya bagi kita, kita tidak gelap mata dan menjadi seperti orang yang jahat tadi?

Sebuah saran untuk teman-teman sekalian, jikalau suatu saat kita mengalami pencobaan, apapun bentuknya, jangan cepat2 menjudge Tuhan tidak adil dst. Cobalah merenung sejenak dan berefleksi, jangan-jangan kita mengalami pencobaan itu akibat dari tindakan atau perilaku kita sendiri?

Akhirnya saya akan menutup renungan ini dengan sebuah pepatah. Pernahkah teman-teman sekalian mendengar pepatah tentang tuts piano? Bunyinya demikian:

Life is like a piano
the white keys represent happiness
the black keys represent sadness
But when a song is being played
the black keys, they make music too

Hidup itu seperti sebuah piano
tuts berwarna putih melambangkan sukacita
tuts berwarna hitam melambangkan dukacita
Tapi ketika sebuah lagu dimainkan
tuts-tuts hitam itu, mereka juga turut memperindah lagu yang dimainkan

Pencobaan memang akan selalu membawa dukacita. Namun ingatlah teman-teman, jika suatu saat kita mengalami dukacita. Itu hanya berarti bahwa ada sukacita yang bisa dicari

Tetap bersemangat
Tetap berharap dalam Tuhan
Syalom :)